Banjir dan tanah longsor yang melanda beberapa wilayah di Sumatera telah memberikan dampak yang mendalam, termasuk di sektor pendidikan. Ribuan mahasiswa di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) di wilayah terdampak menghadapi tantangan besar dalam melanjutkan kegiatan akademik. Menanggapi kondisi darurat ini, Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia segera mengeluarkan kebijakan relaksasi akademik. Kebijakan ini bertujuan untuk menjadi penopang di tengah kesulitan, memastikan keamanan dan kelangsungan pendidikan bagi mahasiswa PTKI yang terkena dampak.
Dampak Banjir pada Pendidikan Tinggi Keagamaan
Bencana banjir dan tanah longsor telah memberikan pukulan berat bagi banyak komunitas, termasuk dunia akademik. Information menunjukkan bahwa setidaknya 30 perguruan tinggi mengalami kerusakan serius, dari kerusakan infrastruktur hingga masalah aksesibilitas serta gangguan listrik dan komunikasi. Kondisi ini mengganggu kegiatan belajar mengajar, pelaksanaan ujian, dan penelitian. Mahasiswa menghadapi kendala akses fisik ke kampus dan gangguan psikologis serta finansial, yang dapat menyebabkan mereka kehilangan term atau menunda kelulusan.
Relaksasi Akademik: Solusi dari Kemenag
Menjawab kebutuhan mendesak ini, Kemenag dengan cepat menerapkan kebijakan relaksasi akademik. Inisiatif ini bertujuan untuk meringankan beban mahasiswa PTKI yang terdampak, sehingga mereka dapat tetap melanjutkan pendidikan. Bentuk relaksasi meliputi penyesuaian jadwal kuliah dan ujian, perpanjangan masa studi, serta kebijakan terkait pembayaran SPP atau bantuan keuangan lainnya. Kebijakan ini menegaskan perhatian pemerintah terhadap kelangsungan pendidikan di PTKI, yang memainkan peran penting dalam mencetak intelektual muslim di Indonesia.
Sinergi Pemerintah: Langkah Bersama Kemdiktisaintek
Bencana ini tidak hanya ditangani oleh satu kementerian. Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) juga berperan serta. Kemdiktisaintek fokus pada pemulihan infrastruktur kampus, penyediaan bantuan teknis, serta dukungan bagi dosen dan staf. Kolaborasi ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk memastikan setiap institusi pendidikan dapat bangkit dan kembali menjalankan kegiatannya.
Banjir juga melumpuhkan aktivitas Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Aceh, menyebabkan beberapa kampus terisolir dan menunda kegiatan akademik selama 1 hingga 2 minggu.
Membangun Resiliensi Pendidikan
Relaksasi akademik dan upaya pemulihan ini adalah langkah awal yang penting. Tantangan ke depan adalah membangun ketahanan sistem pendidikan tinggi agar lebih siap menghadapi bencana serupa di masa depan. Ini termasuk pengembangan infrastruktur tahan bencana, sistem pembelajaran jarak jauh yang efektif, dan program dukungan psikososial. Dengan persiapan ini, diharapkan kegiatan akademik dapat terus berlanjut meski terjadi bencana.